Haluan Nusantara, Jakarta — Pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak hanya menjadi momentum penyambutan mahasiswa baru dan pengenalan lingkungan akademik. Rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk menanamkan nilai kepedulian sosial serta kesadaran terhadap berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat, salah satunya persoalan ekologis.
Mengusung semangat mahasiswa yang tidak hanya berorientasi pada ruang-ruang akademik, PBAK FDIKOM UIN Jakarta menjadi momentum untuk memperkenalkan mahasiswa baru terhadap realitas sosial di luar lingkungan kampus. Kepedulian terhadap lingkungan dan bencana ekologi menjadi salah satu pesan yang didorong dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ketua Pelaksana PBAK FDIKOM UIN Jakarta, Akbar Zakiy Hidayatullah, mengatakan bahwa PBAK tidak seharusnya dimaknai sebatas kegiatan seremonial untuk menyambut mahasiswa baru. Menurutnya, PBAK merupakan tahap awal untuk membentuk karakter mahasiswa agar memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan sosial.
“PBAK bukan hanya tentang penyambutan mahasiswa baru, tetapi juga bagaimana kita membangun kesadaran dan karakter mahasiswa sejak awal. Mahasiswa perlu memahami bahwa ketika masuk ke perguruan tinggi, ada tanggung jawab sosial yang ikut melekat. Salah satunya adalah kepedulian terhadap lingkungan dan persoalan ekologis yang terjadi di masyarakat,” ujar Akbar.
Ia menambahkan, persoalan ekologi memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Berbagai bencana seperti banjir, longsor, kekeringan, hingga persoalan sampah dan pencemaran lingkungan menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial.
“Harapannya, mahasiswa baru tidak hanya mengenal kampus dan sistem akademiknya, tetapi juga memiliki perspektif bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat. Ketika ada persoalan di masyarakat, termasuk bencana ekologi, mahasiswa harus memiliki kepekaan dan kemauan untuk ikut mengambil peran,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua DEMA FDIKOM UIN Jakarta, Zidan Ramdani, menilai bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran publik terhadap persoalan ekologis. Menurutnya, mahasiswa FDIKOM dengan basis keilmuan dakwah dan komunikasi memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan-pesan sosial secara lebih luas kepada masyarakat.
“Mahasiswa FDIKOM memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya berbicara tentang persoalan akademik. Kita juga harus mampu membaca realitas sosial dan menghadirkan kebermanfaatan di tengah masyarakat. Persoalan ekologis adalah salah satu persoalan yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan mahasiswa,” kata Zidan.
Zidan menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus dibangun melalui gerakan yang berkelanjutan. Menurutnya, mahasiswa dapat mengambil peran mulai dari membangun edukasi publik, mengkampanyekan perilaku ramah lingkungan, terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat, hingga mendorong kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan.
“Jangan sampai kepedulian terhadap lingkungan hanya menjadi slogan dalam sebuah kegiatan. Harus ada keberlanjutan setelah PBAK selesai. Mahasiswa perlu membawa semangat tersebut ke dalam kehidupan organisasi, akademik, maupun ketika berinteraksi langsung dengan masyarakat,” tegasnya.
Seruan kepedulian ekologis dalam PBAK FDIKOM UIN Jakarta menjadi relevan di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Bencana ekologis bukan hanya berkaitan dengan fenomena alam, tetapi juga berhubungan dengan tata kelola lingkungan, pola pembangunan, perilaku masyarakat, serta kebijakan yang berpengaruh terhadap keberlangsungan ekosistem.
Karena itu, mahasiswa sebagai bagian dari kelompok intelektual memiliki peran untuk membangun kesadaran kritis. Tidak hanya menjadi pihak yang memberikan bantuan ketika bencana terjadi, mahasiswa juga perlu mengambil peran dalam membangun kesadaran mengenai pencegahan dan pentingnya menjaga lingkungan.
PBAK FDIKOM UIN Jakarta pada akhirnya diharapkan mampu menjadi titik awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal kehidupan kampus sekaligus memahami posisi dan tanggung jawab mereka sebagai bagian dari masyarakat. Nilai-nilai kepedulian, solidaritas, keberlanjutan, dan keberpihakan terhadap masyarakat diharapkan dapat tumbuh bersamaan dengan proses akademik mahasiswa.
Dengan demikian, PBAK tidak berhenti sebagai agenda penyambutan mahasiswa baru. Lebih dari itu, PBAK menjadi ruang pembentukan kesadaran bahwa menjadi mahasiswa berarti memiliki tanggung jawab untuk membaca realitas, menyuarakan persoalan masyarakat, serta mengambil bagian dalam menciptakan perubahan.
Keluarga besar mahasiswa FDIKOM UIN Jakarta pun mendorong agar semangat kepedulian ekologis terus dilanjutkan dalam berbagai aktivitas mahasiswa. Sebab, menjaga lingkungan bukan semata-mata persoalan hari ini, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama untuk memastikan keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.











