Daerah  

Perkuat Keamanan Pangan, SPPG Yayasan Niko Cahaya Abadi Bangun Laboratorium Mikrobiologi Pertama di SPPG Swasta Indonesia

Redaksi
Perkuat Keamanan Pangan, SPPG Yayasan Niko Cahaya Abadi Bangun Laboratorium Mikrobiologi Pertama di SPPG Swasta Indonesia

Komitmen terhadap penguatan standar mutu dan keamanan pangan kembali ditegaskan oleh SPPG yang dikelola Yayasan Niko Cahaya Abadi melalui rencana strategis pembangunan Laboratorium Mikrobiologi dan Food Safety, sebuah fasilitas yang diproyeksikan menjadi pionir di lingkungan SPPG swasta di Indonesia. Langkah ini dinilai sebagai bentuk keseriusan Yayasan dalam memastikan bahwa setiap proses penyediaan makanan bergizi tidak hanya memenuhi standar kuantitas dan kualitas gizi, tetapi juga terjamin dari aspek keamanan pangan secara ilmiah dan terukur.

Ketua Umum Yayasan Niko Cahaya Abadi, Eky Haneko S, menyampaikan bahwa gagasan pembangunan laboratorium tersebut bukanlah keputusan yang muncul belakangan, melainkan telah menjadi bagian integral dari perencanaan awal ketika Yayasan mendaftarkan diri sebagai Mitra Resmi Badan Gizi Nasional. Dalam dokumen pengajuan kemitraan, penyediaan laboratorium serta sistem keamanan pangan telah secara eksplisit dimasukkan sebagai salah satu dari 16 cara kerja strategis untuk mewujudkan visi dan misi program Makan Bergizi Gratis, yang menjadi bagian dari agenda besar Asta Cita pemerintahan Prabowo Subianto.

Menurut Yayasan, pembangunan laboratorium ini dipandang penting karena kualitas pangan tidak dapat hanya diukur dari tampilan fisik maupun kandungan nutrisi semata, tetapi juga harus melalui pengujian mikrobiologis yang ketat. Risiko kontaminasi bakteri, jamur, maupun potensi bahaya biologis lainnya harus mampu dideteksi secara dini agar makanan yang didistribusikan kepada masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, benar-benar aman untuk dikonsumsi.

Ke depan, laboratorium yang akan dibangun tersebut direncanakan untuk dikembangkan dengan standar internasional International Organization for Standardization> ISO 22000, sebagai sistem manajemen keamanan pangan yang diakui secara global. Standarisasi ini diharapkan mampu menjadikan SPPG Yayasan Niko Cahaya Abadi sebagai model pengelolaan dapur pelayanan gizi yang mengintegrasikan sistem keamanan pangan modern dengan tata kelola operasional yang profesional.

Lihat Juga:  Membangun Kemandirian Pangan Melalui Kebun Bersama di Perkebunan Sawit

Sebagai bagian dari upaya menjaga validitas ilmiah hasil pengujian, Yayasan juga telah memulai komunikasi dan penjajakan kerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), khususnya dengan Departemen Biologi. Kerja sama tersebut dirancang untuk mendukung proses validasi hasil laboratorium, pengembangan metode pengujian, serta penguatan sistem pengawasan mutu pangan secara akademik dan berbasis riset.

Pihak Yayasan mengungkapkan bahwa perbincangan awal dengan Departemen Biologi ITS telah berjalan dan menunjukkan progres positif. Saat ini, proses kerja sama disebut telah memasuki tahap finalisasi administratif dan hanya menunggu penandatanganan resmi sebagai bentuk pengesahan kolaborasi.

Ketua Yayasan menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk menghadirkan sistem pelayanan gizi yang tidak hanya memenuhi target distribusi, tetapi juga menjunjung tinggi standar ilmiah, keamanan, dan kualitas pangan nasional. Menurutnya, jika program makan bergizi ingin benar-benar berhasil sebagai investasi masa depan bangsa, maka aspek pengujian laboratorium dan food safety harus menjadi fondasi utama yang tidak boleh diabaikan.

“Ini bukan sekadar dapur pelayanan biasa. Kami ingin menghadirkan standar baru di lingkungan SPPG swasta Indonesia. Jika negara sedang membangun generasi sehat melalui program makan bergizi, maka keamanan pangan harus dijaga dengan pendekatan ilmiah. Laboratorium ini adalah bentuk keseriusan kami dalam mendukung visi Presiden,” tegas Eky Haneko S.

Dengan inisiatif ini, SPPG Yayasan Niko Cahaya Abadi diharapkan dapat menjadi pelopor transformasi standar keamanan pangan dalam sistem pelayanan gizi nasional, sekaligus menjadi contoh bagaimana sektor swasta dapat mengambil peran lebih progresif dalam mendukung agenda pembangunan kesehatan dan ketahanan pangan Indonesia.