Ketika Proyek Mendadak Muncul, Siapa yang Harus Menanggung Risikonya?

Redaksi
Ilustrasi. (Foto: Dok. Istimewa)

Haluan Nusantara – Niko Refita Vito, sebagai Mahasiswa S2 Magister Manajemen, Sekolah Pascasarjana Unilak, sekaligus Team Leader Perencanaan Sistem / Bagian Perencanaan di PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan Rengat, menyampaikan bahwa pengalaman di tempat kerja sering memberi pelajaran penting tentang bagaimana organisasi dikelola. Ia mengaku, bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M. membantunya melihat persoalan secara lebih akademik dan tidak emosional.

“Isu yang saya angkat berkaitan dengan pengambilan keputusan. Dalam pengamatan saya, persoalannya terlihat ketika terdapat proyek yang dilaksanakan di luar perencanaan awal sehingga program yang sudah direncanakan menjadi tertunda. Dalam situasi seperti ini, organisasi perlu memperhitungkan risiko, dampak anggaran, dan konsekuensi jangka panjang sebelum mengambil keputusan,” katanya. Ia menegaskan bahwa isu ini perlu disampaikan dengan bahasa yang hati-hati, karena tujuan utamanya bukan mencari kesalahan, melainkan mencari jalan perbaikan.

Menurut Niko Refita Vito, akar masalahnya berkaitan dengan pekerjaan atau proyek yang muncul di luar perencanaan awal. Jadi, persoalan ini perlu dilihat sebagai rangkaian sebab-akibat di dalam organisasi.

Dampak yang muncul adalah pekerjaan yang sudah direncanakan menjadi tertunda, kondisi anggaran terpengaruh, dan program strategis untuk kemaslahatan masyarakat ikut tertunda.

Untuk memperkuat gagasannya, Niko Refita Vito mengaitkan persoalan tersebut dengan Prospect Theory. Teori ini berfokus pada pengambilan keputusan di bawah risiko dan ketidakpastian. Teori ini relevan ketika organisasi harus memilih antara proyek yang sudah direncanakan dan proyek baru yang muncul karena kepentingan lain, dengan mempertimbangkan risiko terhadap program, anggaran, dan manfaat publik.

Mengenai solusi yang paling realistis, Niko Refita Vito menjawab bahwa perbaikan harus dilakukan secara bertahap. “Saya melihat solusinya adalah memperbaiki komunikasi, memperjelas SOP, memperkuat kompetensi SDM, membangun kolaborasi, dan melakukan evaluasi berbasis data. Yang penting, solusi itu dijalankan dengan komunikasi yang baik, tidak memojokkan siapa pun, dan bisa diterima oleh orang-orang yang terlibat di dalam organisasi,” ungkapnya.

Lihat Juga:  Bahaya Hoax! Tim II KKN UNDIP Mengajak Ibu-Ibu Desa Pungsari Selamatkan Diri dari Banjir Informasi

Dr. Chandra, S.T., M.M. sebagai masyarakat, praktisi, dan peneliti ilmu manajemen, memandang gagasan Niko Refita Vito kuat karena selaras dengan Prospect Theory, yaitu keputusan organisasi sering diambil dalam situasi risiko, ketidakpastian, dan pertimbangan untung-rugi. Ia menyarankan agar pembahasan diperkuat dengan data proyek tertunda, perubahan anggaran, potensi kerugian, manfaat publik, dan alasan perubahan prioritas proyek. Dengan demikian, pengambilan keputusan dapat lebih berhati-hati, tidak hanya responsif terhadap kebutuhan mendadak, tetapi juga mempertimbangkan risiko, akuntabilitas, dan prioritas strategis organisasi.