Kolom  

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Iran

Redaksi
Tuntutlah Ilmu Sampai ke Iran
Ilustrasi. (Foto: Dok. Istimewa)

Penulis: Muttaqin Kholis Ali*

Ketika Dunia Menutup Pintu, Iran Membangun Jalannya Sendiri

Ada satu pertanyaan yang seharusnya mengguncang cara kita memandang kemajuan sebuah bangsa. Bagaimana mungkin sebuah negara yang diembargo lebih dari empat dekade justru mampu bertahan, bahkan berkembang dalam pendidikan, riset, dan teknologi militer. Iran bukan hanya bertahan dari tekanan global sejak 1979, tetapi menunjukkan kapasitas untuk membangun kemandirian di tengah keterbatasan.

Logika umum mengatakan bahwa isolasi akan melumpuhkan. Namun Iran membalik logika itu. Ketika akses terhadap teknologi dibatasi, mereka mengembangkan sendiri. Ketika kerja sama internasional dipersempit, mereka memperkuat kapasitas domestik. Tekanan eksternal tidak menghentikan mereka, tetapi memaksa lahirnya inovasi.

Fakta menunjukkan bahwa ketangguhan ini bukan sekadar narasi. Tingkat melek huruf Iran saat ini berada di kisaran 88 hingga 90 persen menurut laporan UNESCO, dengan generasi muda hampir sepenuhnya literat. Dalam bidang riset, Iran menempati posisi ke-16 dunia dalam produksi publikasi ilmiah menurut SCImago, bahkan menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan sains tercepat secara global. Data UNESCO juga menunjukkan bahwa kontribusi publikasi ilmiah Iran terhadap dunia mencapai lebih dari dua persen, jauh melampaui banyak negara berkembang.

Dalam sektor militer, keterbatasan impor tidak membuat mereka tertinggal. Iran justru dikenal memiliki program rudal dan drone yang kuat serta kemampuan teknologi pertahanan mandiri. Artinya, embargo tidak mematikan, tetapi mengubah arah pembangunan menjadi berbasis kemandirian.

Di sinilah paradoks itu menjadi jelas. Kesulitan tidak menghancurkan Iran, tetapi membentuknya.

Identitas dan Sejarah sebagai Fondasi Ketahanan Bangsa

Namun, jika ditelusuri lebih dalam, kekuatan Iran tidak semata terletak pada pendidikan, riset, atau militernya. Akar utamanya berada pada sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu identitas bangsa yang dibangun secara sadar, konsisten, dan diwariskan lintas generasi.

Iran adalah bangsa yang tidak pernah benar benar meninggalkan sejarahnya. Mereka tidak memperlakukan masa lalu sebagai beban, tetapi sebagai sumber energi. Peradaban Persia, yang menurut berbagai kajian sejarah telah berusia lebih dari 2500 tahun sejak era Kekaisaran Achaemenid pada abad ke 6 sebelum masehi, terus dihidupkan dalam narasi kebangsaan modern. Rujukan tentang kejayaan Persia tidak hanya ditemukan dalam buku sejarah, tetapi secara konsisten diulang dalam pidato politik, pendidikan, dan ruang publik. Pemimpin Iran, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa Iran adalah kelanjutan dari peradaban besar yang memiliki akar panjang dan martabat tinggi. Narasi ini bukan retorika kosong, tetapi bagian dari strategi membangun kesadaran kolektif.

Lihat Juga:  Tung Tung Sahur: Ada Anomali Kesehatan di Riau

Kebanggaan itu nyata dan terlihat. Ia hadir dalam cara mereka berbicara tentang negaranya, dalam cara mereka mempertahankan kedaulatan, bahkan dalam cara mereka merespons tekanan global. Identitas Persia tidak ditinggalkan ketika mereka memasuki era modern, tetapi justru dijadikan fondasi untuk menegosiasikan posisi mereka di dunia. Inilah yang membuat Iran tidak mudah goyah. Mereka tidak hanya tahu ke mana mereka akan pergi, tetapi juga sangat paham dari mana mereka berasal.

Dalam kondisi krisis, identitas ini berfungsi sebagai jangkar. Ia menjaga arah ketika tekanan datang dari luar. Ia membentuk daya tahan psikologis kolektif yang tidak mudah runtuh oleh embargo, konflik, atau isolasi. Banyak studi dalam bidang sosiologi politik dan pembangunan menunjukkan bahwa negara dengan identitas nasional yang kuat memiliki kohesi sosial yang lebih tinggi dan kemampuan bertahan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan eksternal. Iran menjadi contoh konkret bagaimana identitas bukan sekadar simbol, tetapi sumber daya strategis.

Dalam konteks ini, investasi Iran pada pendidikan, sains, dan teknologi tidak berdiri sendiri. Ia berjalan seiring dengan penguatan nilai ideologis dan kebangsaan. Pendidikan tidak hanya menghasilkan tenaga kerja, tetapi membentuk cara berpikir, cara memandang dunia, dan cara menempatkan diri sebagai bagian dari bangsa yang memiliki sejarah panjang. Pengetahuan dan identitas berjalan beriringan.

Inilah yang membedakan Iran dari banyak negara lain. Mereka tidak hanya membangun sistem, tetapi membangun kesadaran. Mereka tidak hanya mengejar kemajuan, tetapi menjaga jati diri. Dan justru dari jati diri itulah mereka menemukan kekuatan untuk bertahan dan berkembang di tengah tekanan dunia.

Indonesia di Tengah Kenyamanan yang Menggerus Identitas

Jika cermin ini diarahkan ke Indonesia, maka refleksi yang muncul tidak selalu nyaman. Indonesia memiliki sejarah besar, nilai luhur, dan kekayaan budaya yang luar biasa. Namun dalam praktiknya, kita sering gagal menjadikan semua itu sebagai kekuatan nyata.

Lihat Juga:  Momen Keberkahan Ramadan dalam Mendorong Ekonomi Syariah untuk UMKM

Data menunjukkan adanya persoalan serius dalam fondasi pendidikan kita. Hasil Programme for International Student Assessment menempatkan Indonesia pada posisi bawah dalam kemampuan literasi, bahkan berada di peringkat 69 dari 77 negara pada 2018. Dalam banyak siklus penilaian, capaian ini tidak menunjukkan perbaikan signifikan, bahkan disebut sebagai kondisi darurat literasi.

Masalah ini bukan sekadar akademik. Ia mencerminkan lemahnya kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Lebih jauh lagi, berbagai kajian menunjukkan bahwa pemahaman nilai kebangsaan di kalangan generasi muda juga mengalami penurunan. Pendidikan berjalan, tetapi tidak selalu membentuk identitas.

Di sisi lain, globalisasi menghadirkan tantangan baru. Budaya luar masuk tanpa filter yang kuat, sementara nilai lokal tidak cukup diinternalisasi. Akibatnya, muncul generasi yang cerdas secara informasi, tetapi rapuh secara identitas. Kita mengenal dunia, tetapi tidak sepenuhnya mengenal diri sendiri.

Inilah perbedaan mendasar dengan Iran. Mereka ditempa oleh tekanan sehingga memperkuat jati diri. Kita hidup dalam kenyamanan, tetapi perlahan kehilangan arah.

Pendidikan, Guru, dan Peran Nilai dalam Membangun Bangsa

Jika akar persoalan ada pada identitas, maka solusi utamanya harus dimulai dari pendidikan. Pendidikan tidak bisa lagi dipahami sekadar sebagai proses transfer ilmu. Ia harus menjadi ruang pembentukan manusia yang utuh.

Peran guru menjadi sangat strategis. Guru tidak hanya mengajarkan materi, tetapi membentuk cara pandang. Di tangan guru, nilai nilai kebangsaan dapat hidup atau justru hilang. Oleh karena itu, penguatan kompetensi guru harus mencakup kemampuan membangun karakter, bukan hanya penguasaan konten.

Kurikulum juga perlu diarahkan pada internalisasi nilai. Sejarah tidak boleh berhenti sebagai hafalan, tetapi harus menjadi refleksi. Budaya tidak cukup dikenalkan, tetapi harus dialami. Pendidikan agama tidak hanya mengajarkan ritual, tetapi harus membentuk etika dan integritas.

Lihat Juga:  Ketahanan Pangan di Daerah Pelosok Indonesia: Isu dan Tantangan

Lebih luas lagi, pembangunan identitas bangsa tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Keluarga dan masyarakat memiliki peran yang sama penting. Nilai nilai seperti gotong royong, kejujuran, dan tanggung jawab harus hidup dalam praktik sehari hari. Tanpa itu, pendidikan formal akan kehilangan daya pengaruhnya.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan nilai. Kita memiliki agama, adat, dan budaya yang kaya. Namun yang sering terjadi adalah kita menyepelekan semuanya. Nilai tersebut tidak hilang, tetapi tidak lagi menjadi pedoman.

Mengembalikan Arah, Membangun Masa Depan

Belajar dari Iran bukan berarti meniru sistemnya secara utuh. Yang perlu dipahami adalah prinsip dasarnya. Ketahanan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau teknologi, tetapi oleh kesadaran akan jati dirinya.

Jika Indonesia ingin maju, maka pembangunan identitas harus menjadi prioritas. Pendidikan harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kebanggaan terhadap bangsanya. Guru harus menjadi penjaga nilai. Sekolah harus menjadi ruang pembentukan karakter. Dan masyarakat harus menjadi lingkungan yang menghidupkan nilai nilai tersebut.

Tanpa itu, kemajuan hanya akan menjadi ilusi. Kita mungkin terlihat berkembang, tetapi tidak benar benar kuat.

Pada akhirnya, ungkapan tuntutlah ilmu sampai ke Iran tidak lagi sekadar ajakan geografis. Ia adalah pengingat bahwa ilmu yang paling penting adalah memahami siapa diri kita sebagai bangsa. Karena kemajuan tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh kita melangkah, tetapi oleh seberapa kuat kita berpijak.

* Pandu Literasi Digital KemKomdigi RI Segmen Pendidikan