Kolom  

Relasi Yang Kuat Dimulai Dengan Empati Dalam Berkomunikasi

Redaksi
Gading Octorio, Pemerhati Komunikasi dan Public Relations. (Foto: Dok. Istimewa). (Foto: Dok. Istimewa)

Penulis: Gading Octorio*

Peran seni dalam berkomunikasi untuk sebagian orang mungkin masih terlihat buram atau bahkan tidak menyadarinya. Seperti yang kita tahu, sudah dari kecil hingga dewasa komunikasi diartikan sebagai proses berbicara atau mengeluarkan suara dari dalam mulut kita. Hal itu memang benar, namun komunikasi bukan hanya mengeluarkan potongan huruf, angka dan kalimat yang ditujukan untuk lawan bicara namun bisa juga dengan unsur nonverbal seperti gesture, ekspresi wajah, kontak mata, intonasi suara. Dalam hal ini empati juga turut andil menjadi sikap sekaligus bagian dari proses komunikasi.

Empati merupakan kemampuan seseorang dalam memahami, menempatkan diri, merasakan perasaan dari sudut pandang orang lain atau lawan bicara, seolah-olah mengalami apa yang mereka rasakan. Empati tumbuh dari dalam diri yang terbentuk dari hal-hal positif yang dialami oleh seseorang, mereka tidak bisa terbentuk begitu saja secara instan. Beberapa orang bisa merasakan empati yang tersalurkan secara tulus atau hanya dibuat-buat hanya untuk mencari dan mendapatkan tujuan yang mereka inginkan (sikap egoisme). Sebagai contoh “Ibu Indri datang ke acara belasungkawa suami Ibu Melani hanya untuk mencari tahu penyebab meninggalnya suami Ibu Melani yang secara tragis, karena beredar rumor bahwa almarhum terlibat aksi pembunuhan berencana”. Hal ini sangat tidak dibenarkan dalam bersikap atau bisa disebut sebagai nirempati. Nirempati merupakan kondisi seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain.

Dalam dunia profesional empati menjadi hal yang wajib diterapkan, karena jika tidak berusaha memahami perasaan atau sudut pandang lawan bicara proses komunikasi bisa menjadi hambar dan mudah menyinggung atau terhambat. Hal ini juga dapat menimbulkan kesalahpahaman, rasa tidak dihargai bahkan hingga konflik yang berkepanjangan. Tanpa empati juga hubungan atau relasi berjalan lebih singkat dan tidak berlanjut dalam jangka waktu yang panjang karena lawan bicara menilainya sebagai komunikasi yang tidak sehat atau toxic. Perasaan tulus sebuah empati bisa dirasakan oleh lawan bicara dari bagaimana mereka merespon, mendengarkan dan juga berperilaku setelahnya.

Lihat Juga:  Memperkuat UMKM Lampung dalam Mendorong Ekonomi Digital yang Inklusif Melalui QRIS

Empati memiliki peran yang sangat penting dalam menjalin relasi yang kuat, baik antar rekan kerja, komunitas, keluarga dan bahkan orang asing. Karena dengan menerapkan empati, seseorang mampu memahami sudut pandang lawan bicara dengan tepat sehingga dapat merespon dengan lebih bijak. Sikap ini juga dapat meningkatkan rasa percaya dan menghargai antar sesama dengan tujuan utama yaitu membentuk lingkungan yang nyaman. Empati bisa terbentuk secara bertahap dengan belajar mendengarkan secara asertif, memahami pola komunikasi lawan bicara, interaksi sosial, memberi tawaran bantuan kecil, tidak menghakimi, mengejek atau merendahkan orang lain, menyampingkan sikap egosentris dan mengelola emosi.

* Penulis aadalah Pemerhati Komunikasi dan Public RelationsPemerhati Komunikasi dan Public Relations