PKM IPB Kembangkan Pemanfaatan Limbah Peternakan untuk Pupuk dan Budidaya Perikanan

Redaksi
PKM IPB Kembangkan Pemanfaatan Limbah Peternakan untuk Pupuk dan Budidaya Perikanan

Haluan Nusantara – Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh Ka Alpito. Acara dibuka dengan ucapan syukur atas terselenggaranya kegiatan, dilanjutkan dengan perkenalan tim dosen dan peserta yang hadir. dalam sambutannya, Ka Alpito menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah peternakan menjadi produk yang bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan. beliau menyampaikan bahwa “pupuk biores merupakan pupuk kompos yang berbahan dasar feses atau limbah domba”.

Selain memperkenalkan produk tersebut, Ka Alpito juga menjelaskan manfaat penggunaan pupuk organik bagi pertanian. selanjutnya beliau menyampaikan bahwa materi mengenai pemanfaatan bioflok akan dipaparkan oleh ibu Dian dengan topik bagaimana sistem bioflok dapat diterapkan dan berdampingan dengan usaha peternakan.

Memasuki sesi berikutnya, Dimas Prayoga memaparkan hasil pembuatan pupuk Biores yang telah dikembangkan oleh tim. Ia menjelaskan bahwa “Pupuk Biores yang telah dibuat sudah memiliki pH sekitar 6–7, berbau seperti tanah, bertekstur remah menyerupai tanah, serta memiliki kandungan NPK yang tinggi karena dalam proses pembuatannya ditambahkan limbah kulit pisang dan nanas yang kaya akan unsur hara.” setelah pemaparan tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama para peternak mengenai proses pembuatan biores sekaligus penyampaian rencana pendampingan oleh tim PKM agar peternak dapat memproduksi pupuk secara mandiri.

Pada sesi diskusi, Ibu Tera menambahkan penjelasan mengenai perbedaan bahan baku pupuk dari berbagai jenis ternak. Beliau menyampaikan, “Biasanya di sini peternak menggunakan pupuk dari kotoran ayam karena ekskretanya sudah bercampur dengan urin. berbeda dengan domba yang feses dan urinnya terpisah, sehingga diperlukan penambahan limbah nanas dan kulit pisang untuk memperkaya kandungan NPK pada pupuk yang dihasilkan”.

Lihat Juga:  SMAN 1 Ciwaringin Tingkatkan Kualitas Belajar Melalui Indibiz Sekolah

Ka Alpito kemudian melanjutkan materi mengenai perbandingan penggunaan pupuk organik dan pupuk kimia. Beliau menjelaskan bahwa pupuk organik mampu memperbaiki struktur tanah dan menjaga kesuburannya dalam jangka panjang, sedangkan pupuk kimia memang memberikan hasil yang lebih cepat, tetapi jika digunakan secara terus-menerus dapat menurunkan kualitas tanah. beliau menegaskan bahwa “setiap jenis pupuk memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. pupuk kimia bekerja lebih cepat, tetapi dalam jangka panjang dapat merusak kondisi tanah, sedangkan pupuk kompos membantu memperbaiki kesuburan tanah secara berkelanjutan.”

Materi selanjutnya disampaikan oleh Ibu Dian yang memperkenalkan diri kepada seluruh peserta. Beliau membuka pemaparannya dengan mengatakan, “Salam kenal Bapak dan Ibu, perkenalkan nama saya Dian. Saya diajak oleh Bu Hakim dan Bu Tera untuk berbagi mengenai pemanfaatan limbah peternakan pada bidang perikanan.”

Dalam penjelasannya, Ibu Dian menerangkan bahwa limbah peternakan memiliki potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan dalam sektor perikanan. Beliau menjelaskan, “Banyak limbah peternakan yang bisa kita manfaatkan. Kalau limbah kotoran domba bisa digunakan untuk pupuk, sedangkan limbah dari kegiatan perikanan juga dapat dimanfaatkan untuk persiapan kolam. pada dasarnya, di dalam kotoran ternak terdapat unsur-unsur yang bermanfaat untuk mendukung kehidupan organisme di kolam.”
beliau kemudian menjelaskan pemanfaatan limbah peternakan untuk budidaya moina atau kutu air. Menurutnya, “kutu air memiliki kandungan protein yang tinggi dan dapat dijual sebagai pakan alami ikan, terutama untuk benih dan indukan ikan hias.” Selain itu, beliau menjelaskan bahwa “kutu air dapat berkembang biak tanpa perkawinan ketika dibuat dalam kondisi stress.” limbah atau feses domba juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam kultur moina sehingga mampu menekan biaya produksi.

Lihat Juga:  SD Warakas 01 Pagi Gandeng Telkom! Guru & Kepsek Antusias Uji Coba Platform PIJAR

Ibu Dian selanjutnya memaparkan teknik budidaya Moina, mulai dari persiapan media, pengaturan kualitas air, hingga waktu panen. Beliau menyampaikan bahwa “Harga jual Moina sekitar Rp10.000 per kantong, pH air untuk kultur tidak boleh terlalu asam, dan moina sudah dapat dipanen dalam waktu sekitar satu hingga dua minggu.” Agar panen dapat dilakukan setiap hari, beliau menyarankan, “siapkan beberapa ember kultur dan lakukan penebaran secara bergantian sehingga waktu panennya juga bergiliran.”

Selain membahas kultur Moina, Ibu Dian juga menjelaskan bahwa limbah peternakan dapat dimanfaatkan untuk budidaya cacing merah atau Lumbricus yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan feses ternak sebagai media. Cacing merah yang dimanfaatkan tersebut memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk pakan ikan. Tepung cacing yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan, khususnya untuk meningkatkan warna pada ikan koi. beliau menyampaikan, “cacing memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga mampu mempercepat pertumbuhan ikan.” selain itu, beliau menjelaskan bahwa “salah satu bahan yang menyebabkan harga pakan ikan mahal adalah tepung ikan yang masih banyak diimpor. tepung cacing berpotensi menjadi substitusi tepung ikan.” beliau juga menambahkan bahwa limbah dedaunan dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambah media budidaya cacing sehingga seluruh limbah organik dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pada sisi terakhir ibu Dian memperkenalkan sistem budidaya ikan menggunakan Bioflok. beliau menjelaskan bahwa “flok adalah kumpulan mikroorganisme atau bakteri baik yang hidup di dalam air. pada sistem bioflok, kita berupaya membentuk mikroorganisme tersebut agar menjadi vlog yang bermanfaat bagi ikan.” selanjutnya dijelaskan tahapan pembuatan bioflok beserta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. beliau menegaskan bahwa “keberhasilan sistem bioflok ditentukan oleh banyaknya vlog yang berhasil terbentuk di dalam media budidaya.”

Lihat Juga:  Kolaborasi Telkom dan SMK Hang Tuah 2 dalam Program Magang Berbasis Praktik

setelah seluruh materi selesai disampaikan dan sesi diskusi bersama peternak berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung sebagai bentuk penerapan materi yang telah dipelajari. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pengolahan limbah peternakan menjadi pupuk biores, tetapi juga mendapatkan wawasan baru mengenai pemanfaatan limbah untuk budidaya Moina, cacing, serta penerapan sistem bioflok sebagai upaya meningkatkan nilai tambah limbah peternakan secara berkelanjutan.