Daerah  

Mahasiswa KKN-T Unhas Hadirkan Pojok Literasi Digital di Desa Marannu melalui Sinkronisasi E-Pusda Berbasis QR Code

Redaksi
Mahasiswa KKN-T Unhas Hadirkan Pojok Literasi Digital di Desa Marannu melalui Sinkronisasi E-Pusda Berbasis QR Code
Program kerja individu bertajuk “Pojok Literasi Digital Desa Marannu dengan Program Sinkronisasi Aplikasi E-Pusda Maros Berbasis QR Code”. (Foto: Dok. Istimewa)

Haluan Nusantara, Makassar — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin menghadirkan inovasi literasi digital melalui program kerja individu bertajuk “Pojok Literasi Digital Desa Marannu dengan Program Sinkronisasi Aplikasi E-Pusda Maros Berbasis QR Code” di Desa Marannu, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Program tersebut diinisiasi oleh Fadhil Muflih H. Firdaus, mahasiswa Fakultas Teknik, Departemen Teknik Elektro, Universitas Hasanuddin dengan NIM D041211077, sebagai upaya menghubungkan fasilitas pojok baca desa dengan akses bahan bacaan digital yang lebih praktis bagi masyarakat.

Program ini dilaksanakan dalam rangka mendukung kesiapan Desa Marannu sebagai perwakilan Kecamatan Lau dalam Lomba Administrasi TP PKK Tingkat Kabupaten Maros Tahun 2026. Gagasan tersebut dikembangkan dengan memanfaatkan ruang pojok baca yang berada di halaman atau teras baca Kantor Desa Marannu agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca secara konvensional, tetapi juga dapat menjadi ruang yang memperkenalkan masyarakat pada pemanfaatan teknologi dalam kegiatan literasi.

Pelaksanaan program berlangsung sejak 15 Juli hingga 11 Agustus 2026, dengan tahapan yang mencakup perencanaan, pengembangan media akses digital, penyusunan panduan, pengujian sistem, hingga implementasi pada hari pelaksanaan. Puncak kegiatan sekaligus realisasi program dilaksanakan pada 11 Agustus 2026 di Desa Marannu. Sasaran kegiatan meliputi masyarakat umum, anak-anak usia sekolah dasar, perangkat desa, serta pengguna pojok baca yang berada di sekitar lingkungan Kantor Desa Marannu. Lokasi tersebut juga memiliki kedekatan dengan lingkungan sekolah dasar, sehingga keberadaan fasilitas literasi digital diharapkan dapat menjangkau anak-anak yang membutuhkan sumber belajar tambahan di luar kegiatan pembelajaran formal.

Konsep utama program dilakukan melalui sinkronisasi akses menuju aplikasi E-Pusda Maros menggunakan QR Code. Melalui sistem tersebut, masyarakat tidak harus mencari alamat layanan digital secara manual karena akses telah diarahkan melalui kode QR yang disediakan pada media informasi. Pengguna cukup memindai QR Code menggunakan perangkat telepon seluler untuk kemudian memperoleh akses menuju website yang dikembangkan dalam program serta terhubung dengan layanan E-Pusda Maros, yaitu layanan perpustakaan digital Kabupaten Maros sebagaimana digunakan dalam program ini.

Lihat Juga:  Membangun Generasi Peduli Lingkungan: Anak-Anak Desa Jabung Antusias Ikuti Edukasi Pemilahan Sampah

Selain menghadirkan akses digital, program tersebut juga menghasilkan stand barcode berbahan akrilik berukuran A5 yang ditempatkan sebagai media akses pada area pojok baca. Media fisik tersebut dirancang agar mudah dikenali dan digunakan oleh masyarakat. Kehadiran stand akrilik memberikan bentuk visual yang lebih permanen dan terstruktur dibandingkan sekadar menampilkan tautan secara digital, sekaligus memperjelas bahwa pojok baca desa telah dilengkapi dengan alternatif akses menuju sumber bacaan berbasis teknologi.

Sebagai bagian dari hilirisasi program, mahasiswa juga menghasilkan Buku Modul Panduan Pojok Literasi Digital Desa Marannu dengan Program Sinkronisasi Aplikasi E-Pusda Maros Berbasis QR Code. Modul tersebut disusun sebagai pedoman penggunaan dan pengenalan fasilitas kepada perangkat desa maupun masyarakat. Keberadaan buku panduan diharapkan dapat membantu pengguna memahami tahapan akses, fungsi media QR Code, serta pemanfaatan fasilitas literasi digital secara mandiri. Dengan demikian, hasil kegiatan tidak berhenti pada pemasangan media fisik, tetapi turut menghasilkan dokumentasi pengetahuan yang dapat digunakan setelah pelaksanaan KKN-T selesai.

Menurut Fadhil, pengembangan pojok literasi digital berangkat dari kebutuhan untuk mengintegrasikan keberadaan ruang baca fisik dengan perkembangan teknologi informasi. Pemanfaatan teknologi diharapkan dapat memperluas pilihan masyarakat dalam memperoleh bahan bacaan dan sumber informasi. Pendekatan tersebut juga memberikan alternatif bagi anak-anak sekolah dasar untuk mengenal pola belajar yang memadukan buku, ruang baca, telepon seluler, serta sumber informasi digital secara lebih terarah.

Program ini memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4 atau Pendidikan Berkualitas. SDG 4 menekankan pentingnya akses pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan kesempatan belajar sepanjang hayat, sementara transformasi digital dapat menjadi salah satu unsur pendukung pemerataan akses belajar dan pengembangan keterampilan. Dalam konteks Desa Marannu, penerapan pojok literasi digital diarahkan sebagai sarana pendukung pembelajaran dan peningkatan budaya literasi masyarakat.

Lihat Juga:  Pegadaian Kanwil IX Tebar Kasih Natal 2025 untuk Sahabat Disabilitas dan Anak Panti Asuhan

Pemerintah Kabupaten Maros sendiri telah menempatkan pemanfaatan teknologi informasi dalam pengelolaan perpustakaan sebagai bagian dari pengembangan layanan perpustakaan. Penguatan layanan berbasis teknologi tersebut menjadi salah satu landasan penting bagi berkembangnya pola akses informasi yang lebih modern dan terintegrasi.

Pelaksanaan program pada 11 Agustus 2026 juga menjadi bagian penting dari pengenalan hasil inovasi di tingkat desa. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Bupati Maros beserta jajaran dan staf, serta perangkat Forkopimda Kabupaten Maros, sehingga produk yang dihasilkan dapat diperkenalkan dalam konteks pelaksanaan kegiatan dan pengembangan administrasi serta inovasi desa.

Melalui program tersebut, mahasiswa KKN-T Unhas berupaya menghadirkan bentuk hilirisasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang sederhana namun dapat digunakan secara langsung oleh masyarakat. Integrasi pojok baca, modul panduan, website, QR Code, dan stand akrilik diharapkan dapat menjadikan fasilitas literasi Desa Marannu lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat di era digital. Ke depan, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat umum, anak-anak sekolah dasar, serta perangkat desa sebagai salah satu sarana pendukung budaya membaca, pembelajaran, dan pemanfaatan sumber informasi digital di lingkungan Desa Marannu.