Haluan Nuusantara, Bandung – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Bhakti Kencana (UBK) Kelompok 6 sukses melaksanakan program penyuluhan kesehatan bertema “Pencegahan dan Penanggulangan Hipertensi” di Aula Kantor Desa Citaman, Senin (25/8/2025). Kegiatan ini dihadiri puluhan warga dan bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya hipertensi serta pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.
Acara resmi dibuka pukul 09.00 WIB oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Fenti Fatmawati, M.Si. Materi inti dimulai pukul 09.15 WIB dan disampaikan oleh tim dosen UBK. Dr. Fenti memaparkan secara rinci cara mengolah rambut jagung menjadi teh herbal yang bermanfaat untuk membantu menurunkan tekanan darah. Ia menjelaskan mulai dari pemilihan jagung, pembersihan rambut jagung, proses pengeringan, hingga penyeduhan agar manfaatnya optimal.
Apt. Wempi Budiana, M.Si., menambahkan penjelasan mengenai kandungan zat aktif dalam rambut jagung yang berfungsi sebagai diuretik alami, membantu menurunkan tekanan darah tinggi dan mendukung fungsi ginjal. Sementara itu, Dr. apt. Entris Sutrisno, M.H. Kes., melengkapi dengan materi mengenai farmakoterapi jagung. Ia menyoroti peran rambut jagung dalam pengobatan modern, interaksinya dengan obat antihipertensi, serta pentingnya pemantauan tekanan darah secara rutin meskipun menggunakan bahan herbal.
Sementara itu, Dr. apt. Entris Sutrisno, M.H. Kes., memberikan pandangan yang membuka wawasan warga. “Selama ini kita hanya fokus pada jagung sebagai bahan pangan. Padahal, rambut jagung yang sering dianggap limbah ternyata bisa diolah menjadi bahan bernilai jual dan bahkan digunakan sebagai obat. Ini peluang besar bagi masyarakat desa untuk mengembangkan produk herbal yang bermanfaat bagi kesehatan dan memiliki potensi ekonomi,” jelasnya.
Sesi tanya jawab berlangsung menarik. Pak Agus, salah satu warga, mengungkapkan kendala di desanya. “Kami ingin memanfaatkan rambut jagung untuk kesehatan, tapi belum ada motivator yang mengajak menanam jagung secara berkelanjutan. Apakah semua jenis rambut jagung bisa dijadikan teh? Di sini ada jagung manis, jagung lokal, dan jagung pakan,” ujarnya.
Para narasumber menjawab bahwa semua jenis rambut jagung bisa dimanfaatkan, namun jagung pangan seperti jagung manis dan jagung lokal lebih disarankan karena kualitasnya lebih baik untuk konsumsi manusia. Mereka juga menegaskan bahwa produk teh rambut jagung berpotensi menjadi komoditas unggulan desa jika diolah dengan baik dan dipasarkan secara tepat.
“Penjelasan tadi sangat membuka wawasan. Saya jadi tahu jagung mana yang baik untuk dibuat teh dan bagaimana mengolahnya agar bernilai jual. Semoga ke depan ada yang bisa mengembangkan produk ini sebagai usaha desa,” ujar Pak Agus setelah sesi diskusi.

Setelah sesi dari para dosen, Tasya selaku ketua pelaksana memberikan materi mengenai pencegahan hipertensi dengan pendekatan CERDIK dan pengendalian PATUH. Ia menekankan pentingnya kesadaran diri untuk rutin memeriksa kesehatan, menjauhi asap rokok, rajin berolahraga, menjaga pola makan bergizi seimbang, beristirahat cukup, dan mengelola stres dengan baik. Tasya juga menjelaskan bahwa pengendalian hipertensi membutuhkan kepatuhan dalam mengonsumsi obat sesuai anjuran, pengobatan yang tepat, disiplin menjalani diet sehat, aktif bergerak, serta menjauhi rokok dan alkohol.
“Hipertensi sering disebut pembunuh diam-diam karena sering tidak menimbulkan gejala. Dengan menerapkan kebiasaan sehat ini, kita bisa mencegah dan mengendalikan hipertensi sejak dini,” ujarnya yang disambut tepuk tangan warga.
Kegiatan semakin semarak dengan sesi tanya jawab, pembagian doorprize, dan ice breaking yang dipandu MC Hanifa dan Iva. Mahasiswa KKN juga memberikan penyuluhan langsung tentang hipertensi, diikuti pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman peserta.

Sebagai penutup, dilakukan penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) bersama warga sebagai simbol komitmen menjaga kesehatan berkelanjutan di Desa Citaman. “Kami berharap kegiatan ini bermanfaat dan dapat menjadi langkah awal masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan,” ujar Tasya.
Program ini menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa UBK dalam mengabdi kepada masyarakat melalui edukasi kesehatan, pemanfaatan herbal lokal, dan upaya preventif terhadap penyakit tidak menular.